Apa dan Bagaimana Home Education Berbasis Fitrah?

Apa dan Bagaimana Home Education Berbasis Fitrah?


Bagian 1. Home Education (Pendidikan berbasis Rumah)

Peradaban sesungguhnya berawal dari sebuah rumah, dari sebuah keluarga. Home Education itu sifat wajib bagi kita yang berperan sebagai penjaga amanah. Karena sesungguhnya HE itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar’i yang harus dimiliki oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanahNya.

Jadi tidak ada yang “LUAR BIASA” yang akan kita kerjakan di HE. Kita hanya akan melakukan yang “SEMESTINYA” orangtua lakukan. Maka syarat pertama “dilarang minder” ketika pilihan anda berbeda dengan yang lain. Karena kita sedang menjalankan “misi hidup” dari sang Maha Guru.

Home Education dimulai dari proses seleksi ayah/ibu yang tepat untuk anak-anak kita, karena hak anak pertama adalah mendapatkan ayah dan ibu yg baik. Setelah itu dilanjutkan dari proses terjadinya anak-anak, di dalam rahim, sampai dia lahir. Tahap berikutnya dari usia 0-7 tahun, usia 8-14 tahun, dan usia 14 tahun ke atas kita sudah mempunyai anak yg aqil baligh secara bersamaan.

Home Education sebagai orang tua dan anak nyaris selesai di usia 14 th ke atas. Orang tua berubah fungsi menjadi coach anak dan mengantar anak menjadi dewasa, delivery method HE pun sudah jauh berbeda.

Kita dipercaya sebagai penjaga amanahNya, SEMESTINYA kita menjaganya dengan ilmu. Jadi orang tua yang belajar khusus untuk mendidik anaknya seharusnya hal BIASA, tapi sekarang menjadi hal yang LUAR BIASA karena tidak banyak orang tua yg melakukannya.

Hal-hal yang SEMESTINYA orang tua lakukan :
  • Mendidik
  • Mendengarkan
  • Menyanyangi
  • Melayani (pd usia 0-7 thn)
  • Memberi rasa aman&nyaman
  • Menjaga dari hal-hal yg merusak jiwa dan fisiknya
  • Memberi contoh dan keteladanan
  • Bermain
  • Berkomunikasi dengan baik sesuai usia anak


Tugas mendidik bukan menjejali “OUTSIDE IN“, tetapi “INSIDE OUT” yaitu menemani anak-anak menggali dan menemukan fitrah-fitah baik itu sehingga mereka menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) tepat ketika mencapai usia aqil baligh. Satu-satunya lembaga yang tahu betul anak-anak kita, mampu telaten dan penuh cinta hanyalah rumah dimana amanah mendidik adalah peran utama ayah bundanya.

Anak lahir ke muka bumi membawa fitrahnya, sehingga perlu pendidikan yang mengeluarkan fitrah anak tersebut:

✅ Fitrah Kesucian. Inilah yang menjelaskan mengapa tiap manusia mengenal dan mengakui adanya Tuhan, memerlukan Tuhan, sehingga manusia memiliki sifat mencintai kebenaran, keadilan, kesucian, malu terhadap dosa.

✅ Fitrah Belajar.
Tidak satupun manusia yang tidak menyukai belajar, kecuali salah ajar. Khalifah di muka bumi tentunya seorang pembelajar tangguh sejati.
✅ Fitrah Bakat.
Ini terkait misi penciptaan spesifik atau peran spesifik khilafah atau peradaban, sehingga setiap anak yang lahir ke muka bumi pasti memiliki bakat yang berbeda-beda.
✅ Fitrah Perkembangan.
Setiap manusia memiliki tahapan perkembangan hidup yang spesifik dan memerlukan pendidikan yang sesuai dengan tahapannya, karena perkembangan fisik dan psikologis anak bertahap mengikuti pertambahan usianya. Misalnya, Allah tidak memerintah ajarkan shalat sejak dini, tetapi ajarkan shalat jika mencapai usia 7 tahun. Pembiasaan boleh dilakukan tapi tetap harus didorong oleh dorongan penghayatan aqidah berupa cinta kepada Allah dari dalam diri anak-anak.

🔻 Pendidikan Berbasis Shiroh

Kita perlu mengkaji lebih dalam pendidikan yang dialami oleh Rasulullah dari lahir sampai dewasa, sebagai contoh pendidikan untuk anak-anak nanti. PENDIDIKAN dan PERSEKOLAHAN adalah hal yang berbeda. Bukan sekolah atau tidak sekolah yang ditekankan, tetapi bagaimana pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak sehingga potensi alamiah anak dapat dikembangkan, karena setiap anak memiliki potensi yg merupakan panggilan hidupnya.

🔻 Pendidikan Berbasis Potensi & Akhlak

Yang dimaksud adalah yang terkait dengan performance. Dimulai dengan mengenal sifat bawaan atau istilah Abah Rama dengan Personality Productive yang kemudian menjadi aktivitas dan performance, lalu  menjadi karir dan peran peradaban yang merupakan panggilan, akhirnya menentukan destiny. Jadi pengembangan potensi berkaitan dengan performansi, namun performansi memerlukan nilai-nilai yang disebut sebagai akhlak dan moral karakter.

Dalam mengembangkan bakatnya, anak-anak perlu diingatkan dan diteladankan dengan nilai-nilai dalam keyakinannya (Al Islam) agar perannya bermanfaat dan rahmat atau menjadi akhlak mulia. ” Setiap keluarga memiliki kemerdekaan untuk menentukan dan mengejar mimpinya , termasuk dalam hal pendidikan.”

Bagian 3. Tazkiyatunnafs.


Secara sederhana dimaknai sebagai pensucian jiwa, membersihkan hati dengan banyak mendekat, memohon ampun, menjaga serta berhati-hati dari hal-hal yg syubhat apalagi haram atau waro’ kepada Allah dengan harapan keridhaan Allah SWT agar ditambah hidayah sehingga fitrah nurani memancar dalam akhlak dan sikap serta kesadaran yang tinggi atas peran (tauiyatul a’la). Pendidikan anak atau generasi memerlukan ini sebagai pondasi awal. Selanjutnya adalah masalah teknis.

Umumnya kecemasan, obsesif, banyak menuntut atau banyak memaksa atau sebaliknya, tidak konsisten (dalam arti sesuai fitrah anak, bukan obsesi orang tua), tidak percaya diri mendidik anak, muncul karena kurangnya tazkiyatunnafs para orang tuanya sehingga mudah terpengaruh oleh “tuntutan atau perlakuan” yang tidak sesuai atau menciderai fitrah.

Tujuan tazkiyatunnafs orang tua, adalah agar kita kembali kepada kesadaran fitrah kita dengan memahami konsep pendidikan sejati sesuai fitrah. Ketika orang tua menginginkan anaknya shalih maka orang tua harus memahami konsep kesejatian/fitrah anak dan makna keshalihan sesungguhnya. Shalih adalah amal, bukan status.

Pesan dari Bunda Septi yang selalu kami pegang,  “Untuk itu siapkan diri, kuatkan mental, bersihkan segala emosi dan dendam pribadi, untuk menerima SK dari yang Maha Memberi Amanah. Jangan pernah ragukan DIA. Jaga amanah dengan sungguh-sungguh, dunia Allah yang atur, dan nikmati perjalanan anda.”

Bagian 4. Metode dan Cara


Sudah tidak diragukan lagi bahwa mendidik (bukan mengajarkan) Aqidah sejak usia dini, adalah hal yang mutlak. Aqidah yg kokoh akan amat menentukan pilihan2 serta pensikapan2 yg benar dan baik dalam kehidupan anak2 kita kelak ketika dewasa. Lalu bagaimana metode dan caranya?

Menurut yg saya pahami secara sederhana, bahwa pertama, setiap pendidik atau ortu perlu menyadari bhw sesungguhnya setiap anak manusia yg lahir sudah dalam keadaan memiliki fitrah aqidah atau keimanan kpd Allah Swt. Setiap manusia pernah bersaksi akan keberadaan Allah swt, sebelum mereka lahir ke dunia. Maka tdk pernah ditemui di permukaan bumi manapun, bangsa2 yg tidak memiliki Tuhan, yaitu Zat Yang Maha Hebat tempat menyerahkan dan menyandarkan semua masalah dalam kehidupan.

Dengan demikian maka, yg kedua adalah bahwa tugas mendidik adalah membangkitkan kembali fitrah keimanan ini, namun bukan dengan doktrin atau penjejalan pengetahuan ttg keimanan, namun dengan menumbuhkan (yarubbu/inside out) kesadaran keimanan melalui imaji-imaji positif tentang Allah swt, tentang ciptaanNya yang ada pada dirinya dan ciptaanNya yg ada di alam semesta.

Dengan begitu maka, yg ketiga adalah dengan metode utk sebanyak mungkin belajar melalui hikmah-hikmah yang ada di alam, hikmah yang ada pada peristiwa sehari-sehari, hikmah pada sejarah, hikmah2 pada keteladanan dstnya.
  1. Menjadi penting membacakan kisah2 keteladanan orang2 besar yg memiliki akhlak yg mulia sepanjang sejarah, baik yg ada dalam Kitab Suci maupun Hadits maupun yg ditulis oleh orang2 sholeh sesudahnya.
  2. Menjadi penting senantiasa merelasikan peristiwa sehari2 dengan menggali hikmah2 yg baik dan inspiratif.
  3. Menjadi penting untuk senantiasa belajar dengan beraktifitas fisik di alam dgn, meraba, merasa, mencium aroma, mengalami langsung dstnya.

Metode berikutnya, tentu saja kisah2 penuh hikmah itu perlu disampaikan dengan tutur bahasa yg baik, mulia dan indah bahkan sastra yg tinggi. Menjadi penting bahwa tiap anak perlu mendalami bahasa Ibunya dan bahasa Kitab Sucinya. Bukan mampu meniru ucapan, membaca tulisan dan menulis tanpa makna, namun yg terpenting adalah mampu mengekspresikan gagasan2 dalam jiwanya secara fasih, lugas dan indah, sensitif thd makna kiasan2 dalam bahasa sastra yg tinggi.

Para Sahabat Nabi SAW yg dikenal tegas namun memiliki empati dan sensitifitas yg baik serta visioner umumnya sangat menggemari sastra.




Semua metode itu, kembali lagi, adalah bertujuan utk membangun kesadaran keimanan melalui imaji2 positif lewat kisah yg mengisnpirasi, melalui kegairahan yg berangkat dari keteladanan, pemaknaan yg baik melalui bahasa ibu yg sempurna dstnya.

Imaji negatif akan melahirkan luka persepsi dan luka itu akan membuat pensikapan yg buruk ketika anak kita kelak dewasa.

Sampai di sini kita menyadari bhw peran orangtua sebagai pendidik yg penuh cinta serta telaten maupun sebagai sosok yg diteladani dan menginspirasi tidak dapat digantikan oleh siapapun, apalagi dalam membangkitkan kesadaran keimanan anak2nya. Maka penting bagi para pendidik untuk melakukan pensucian jiwa (tazkiyatunnafs) sebelum memulai mendidik dgn kitab dan hikmah.

Bukankah orangtua lah yg akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat, bukan yang lain?

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasispotensiakhlak

Sumber: Materi Kulwap HEbAT Community oleh Ust. Harry Santosa dan Ibu Septi Peni Wulandani dan  Disusun oleh: Tim Pengurus Pusat HEbAT

33 comments :

  1. Saya dan beberapa teman saat ini sedang membuat CBE. Baru berjalan edisi perdana di sabtu siang td. Ada pertanyaan dr bbrp ortu. Jika saat ini putra putri mereka usia sudah 14 th, 10 th. Bgmn caranya agar fitrah2 tsb bisa muncul sementara jika menurut konsep HE sangat terlambat bisa dibilang, tetapi ortu2 ini ingin membenahi pola pendidikannya?

    ReplyDelete
  2. Assalamu'alaikum, saya mo nanya, gimana ya menerapkan HE pada anak yang sudah 10 tahun keatas dimana kita baru mengenal ttg HE tsb? Bagaimana menyelaraskan program yg hrs dijalani utk usianya dan program yg belum kita berikan utk usia sebelumnya dan mengembalikan egosentris yg belum terpenuhi pada anak tsb? Untuk bisa menumbuhkan ketauhidannya .. jazakallah ats jwbny ��

    ReplyDelete
  3. bunda Esa Putri dan bunda Balqis yang baik,

    Tiada kata terlambat sepanjang masih Allah berikan kehidupan di muka bumi. Pendidikan Rumah berbasis fitrah sesungguhnya untuk semua usia. Framework pendidikan berbasis fitrah yang dibuat adalah framework ideal, semakin ideal sesuai tahapannya maka akan semakin mudah menjalaninya.

    Jika usianya sudah lebih dari 10 tahun atau lebih dari 14 tahun maka proses dalam framework bisa diulang namun tentu lebih intens dengan berbagai cara yang sesuai dengan kondisi.

    Misalnya jika anak di usia 10 tahun ke atas masih sulit disuruh sholat, maka besar kemungkinan fitrah keimanannya tidak tumbuh baik pada usia di bawah 7 tahun. Sebagaimana kita pahami bahwa golden age untuk fitrah keimanan ada di usia 0-6 tahun.

    Maka prosesnya diulang, yaitu dengan membangun kembali gairah cintanya pada Allah, pada Rasulullah SAW dan pada Islam. Metodenya tentu dengan keteladanan dan atmosfir keshalihan lebih intens di rumah maupun di luar rumah sehingga fitrah keimanannya menjadi bangkit kembali. Meng-Homestay kan anak di keluarga atau komunitas orang orang shalih selama beberapa akan membantu mengembalikan cintanya.

    Begitupula fitrah bakat, jika sudah terlewat di atas usia 14 tahun, prosesnya diulang dengan menemukan kembali sifat uniknya ketika anak anak, kemudian memberikan aktifitas yang relevan untuk mengetahui bakat dalam arti peran sesungguhnya kemudian baru bicara pemagangan untuk menajamkan peran.

    Don't Worry. Tetap semangat dan optimis.✅

    ReplyDelete
  4. Yang sy tangkap konsep HE cenderung buat kelas menengah dan berbiaya tinggi, terutama untuk mengembangkan fitrah bakat. Orang tua yg menjalankan HE pd masa kini adalah org tua terpelajar dan sumber daya ekonominya relatif stabil. Bagaimana menyiasati pembiayaan HE agar dapat diterapkan oleh semua lapisan masyarakat? Terimakasih

    ReplyDelete
  5. bunda Asih yang baik di Jogja,
    Saya teringat tahun 80an ketika gerakan Jilbab baru dimulai melalui mengembalikan kesadaran para wanita muslimah pada keridhaan kepada Allah. Banyak yang mengatakan jilbab dan ghamisnya hanya untuk kalangan menengah ke atas karena mahal dstnya. Hari ini kita jumpai dimana mana wanita muslim di Indonesia dengan mudah mengenakan busana Muslimah dengan rapih tanpa mempermasalahkan biaya dsbnya.
    Begitulah ketika kesadaran untuk kembali kepada panggilan Allah maka Allah akan mampukan dan kemudian segala sesuatunya menjadi dimudahkan oleh Allah.
    Sejujurnya, anak anak saya banyak magang dengan teman teman dan kenalan dengan tanpa biaya bahkan beberapa digaji. Hari ini ketika teman2 seangkatannya masih dibayari kuliah oleh orangtuanya, beberapa anak saya sudah bisa menjadi professional yang mandiri.
    Yakinlah ada banyak orang2 baik di sekitar kita baik di kota maupun di desa sekalipun yang memiliki peran yang hebat dan bersedia berbagi kepada anak anak kita.
    Jadi kuncinya adalah yakin bahwa HE berbasis fitrah adalah panggilan Allah, dan mari kita berjama'ah/berkomunitas untuk mewujudkannya.✅

    ReplyDelete
  6. Saya Rita-Bandung
    Ibu dari 3 anak : 2 smp, 6 sd dan 2 sd.

    Apakah benar bila orang tua memberikan target2 pada anak sesuai dg tahap perkembangan nya ? Misalnya kapan harus mandiri, kapan harus bisa baca qur'an. Nuhun.

    Miris banget saya menemui anak usia baligh SMP-SMA tapi masih banyak dibantu, belum bisa melakukan keperluan nya sendiri. Yg sudah usia 3 SD blm bisa baca qur'an...padahal usia segitu wajib solat, mengenal Alloh, Rasul. Kalo ga bisa baca qur'an gimana tahu mencintai alloh dan rasulnya

    ReplyDelete
  7. bunda Rita di Bandung yang baik,
    Target capaian tentu boleh namun disesuaikan dengan tahapan usianya dan kesiapannya sesuai potensinya. Namun kita para orangtua harus mengendalikan obsesi kita, karena sebagian besar hasil pendidikan anak kita adalah karena Maha Karya Allah. Misalnya mentargetkan anak balita untuk sholat 5 waktu dengan bacaan yang tepat dan tertib tentu "lebay obsesif". Membiarkan anak usia 7 tahun untuk tidak memulai sholat dan mengenali bakatnya itu "abai pesimis".

    Anak yang dirampas terlalu cepat masa anak anaknya ketika usia 0-10 maka kelak akan kita temukan anak besar yang kekanak kanakan.

    Dari sisi keunikan anak maka semua target sebaiknya relevan dengan fitrah anak. Semakin mereka antusias melakukan maka bisa dipastikan itu relevan dengan fitrahnya. Maka ketika memasang target, check list, juga perhatikan antusias dan ghirahnya ketika melakukannya. Tugas adalah menemukan lahan, kelambaman dan curah air yang tepat bagi akar benih fitrah anak anak kita.

    Para ulama dahulu mengatakan Adab sebelum Ilmu, Iman sebelum alQuran. Jadi pastikan anak anak diberikan hikmah hilkmah terindah melalui kisah, keteladanan, suasana keshalihan dsbnya sehingga bergairah dan ridha beramal. Jangan sampai terbalik ✅

    ReplyDelete
  8. Bismillah
    Assalamualaikum wr.wb..
    Dalam proses membersamai dan mendidik anak2, saya merasa masih pasang surut dlm proses Tazkiyatun Nafs (TN). Konsistensi saya di sini terasa masih jatuh bangun. Sebagai contoh saya msh lbh sering termasuk ortu yg bs sangat berbinar-binar klo anak2 patuh, tampil menyenangkan, baik, dll yg positif. Tp kadang klau sedikit saja ada yg dilakukan anak yg berkesan negatif; seperti berebut dgn adik/kakak, silang pendapat antar sodara, dll saya msh sering bertingkah panik nanggapinya.. Astaghfirullah...

    Nah di kesempatan matrikulasi ini saya ingin dpt pencerahan yg lebih tepat lagi.
    1. Langkah apa yg mesti saya pertajam untuk diri saya sendiri supaya merasa maksimal dlm mendidik anak?

    Kemudian bagaimana cara memanej sikap kita agar tdk labil dgn respon luar thdp pilihan "tampil beda" dlm mendidik anak?

    2. Mohon penjelasannya terkait langkah2 tazkiyatun nafs yg dilakukan sndr mengingat tashap ini yg plg penting dlm mendidik anak

    3. Contoh kegiatan tazkiyatun nafs dan apakah anak2 juga dilibatkan pada perjalanan nya?

    ReplyDelete
  9. bunda Fitri, dkk yang baik,
    1. Dari semua bekal mendidik yang terbaik adalah keyakinan atau keimanan. Yakin bahwasannya tiada anak yang dilahirkan dengan membawa keburukan, bahkan Allah instal begitu banyak kebaikan berupa fitrah anak, fitrah ayahbunda, hikmah yang banyak sebagai orangtua, juga Allah turunkanKitabullah sebagai pemandu, peristiwa dari hari ke hari yang "jika kita tajam menggunakan hati, mata dan telinga" maka itu semua adalah pendidikan dari Allah.

    Jadi yakinlah mustahil Allah menciptakan manusia tanpa peran istimewa di masa depan, justru kecemasan, kekhawatiran, kegundahan kita bisa menyebabkan fitrah anak anak kita menyimpang atau cidera.

    Sikap atau pensikapan itu lahir dari kondisi internal atau kejiwaan. Karenanya kita diminta setidaknya membaca doa ma'tsurat ketika pagi dan petang yang bunyinya,
    "Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari sifat sedih dan gelisah"
    "Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan ketidakbecusan"
    Lihatlah bahwa aspek internal seperti sedih dan gelisah itu berdampak pada sikap malas dan tidak kompeten. Lalu Doa berikutnya
    "Ya Allah aku berlindung kepadaMU dari Pelit dan Pengecut"
    "Ya Allah aku berlindung kepadaMU dari dililit hutang dan ditindas orang"

    Kesedihan dan kegelisahan akan banyak mudhorotnya. Maka bangunlah keyakinan.

    "Tampil beda" itu dalam Islam disebut dengan Ghuroba. Almarhum Moh Natsir menyebut Ghuroba dengan Perintis atau pathfinder. Yakinlah bahwa kita adalah perintis pendidikan sejati dan mengembalikan fitrah anak anak kita. Keyakinan atau keimanan yang terus menerus akan melahirkan keberanian untuk menjadi agen perubah peradaban.

    2. Langkah Tazkiyatunnafas yang umum adalah 5 M (Mu'ahadah, Muroqobah, Muhasabah, Mujahadah, Mu'aqobah).
    Mu'ahadah - mengingat kembali maksud penciptaan Allah, makna syahadah, janji janji pernikahan, misi pernikahan dstnya
    Muroqobah - memperbanyak mendekat kepada Allah. Mulailah dari amal yang paling mudah dan disukai namun berpahala banyak. Tiap orang berbeda. Ada yang mendekat kepada Allah dengan berpuasa, ada yang merawat anak yatim, ada yang sholat malam, ada yang menjaga hati untuk tidak dengki dsbnya.
    Muhasabah - melakukan evaluasi dan perbaikan terus menerus terhadap proses mendidik diri dan anak
    Mujahadah - menjalankannya dengan sungguh sungguh dan ridha
    Mu;aqobah - menetapkan ukuran dalam perjalanan dan menerima konsekuensinya untuk lebih baik

    3. Sebenarnya proses mendidik itu adalah proses tazkiyah. Bayangkan ketika ayah bunda ingin menggairahkan cinta anak pada Allah, apakah pada saat ini kita tidak sedang merefleksikannya pada diri kita bagaimana gairah cinta kita kepada Allah? Bayangkan ketika kita mengamati aktifitas anak dan menggali fitrah bakatnya, apakah kita tidak sedang berefleksi pada diri, bakat saya apa, peran saya di muka bumi yang Allah tugaskan apa?
    Karenanya, mendidik fitrah anak itu berarti mendidik fitrah diri sendiri, dan keseluruhan proses itu adalah proses semakin mendekat kepada peran peran sejati sesuai fitrah yang Allah berikan sehingga Allah menjadi ridha dan kita menjadi bahagia dan tenang menjalaninya ✅

    ReplyDelete
  10. Ummu Alfatih -SemarangDecember 22, 2016 at 4:10 AM

    Pada usia berapa bakat pada anak bisa diketahui/ditemukan/terlihat? Apakah bakat tersebut akan muncul sendiri atau harus kita stimulasi? Karena sy bingung, di sekitar kita banyak bakat yg memang dilatihkan pada anak sejak dini seperti anak2 yang sudah diikutkan les lukis atau tari sejak dini. Sebaiknya sebagai orangtua, kita harus bagaimana?

    ReplyDelete
  11. Assalamualaikum ustad.
    Bagaimana cara mengenal, menemukan/menggali fitrah bakat anak?

    ReplyDelete
  12. bunda Ummu alFatih di Semarang, dan bunda Qoty di Depok yang baik,

    Bakat itu bisa terkait keistimewaan sifat sejak lahir (suka memerintah, suka berkomunikasi, suka berfikir, suka empati dll) atau keistimewaan fisik sejak lahir (suka olaharaga, suka memasak, suka menari dll).

    Pada tahap usia 0-6 tahun, bakat akan muncul pada sifat unik atau fisik yang unik, maka amati saja sifat uniknya atau fisik uniknya. Biasakan membuat "journal kegiatan" untuk setiap kegiatan sehingga kita dapat menuliskan antusias anak dalam kegiatan. Antusias ini bisa mewakili sifat unik atau fisik unik anak. Jangan tergesa, catat saja dengan rileks dan optimis.

    Pada tahap usia 7-10 tahun, umumnya sudah nampak sifat uniknya atau fisik uniknya, maka berikan aktifitas yang relevan, Kalau sifat uniknya suka memerintah, maka jadikan dia pimpro untuk setiap kegiatan di rumah. Jika sifat uniknya adalah suka kebersihan, maka berikan tugas tugas kebersihan atau proyek hijau dsbnya.
    Kombinasikan dengan anjang sana sini untuk membuka wawasan ananda akan beragam profesi yang relavan, kita menyebutnya dengan "tour de talents".

    Sampai usia 10 tahun bakat tidak memerlukan latihan, karena selain masih belum ajeg atau mengkristal juga baik syariah maupun model pendidikan yang baik, melarang pembebanan latihan yang berat sebelum usia 10 tahun.

    Ketika usia 10 tahun maka umumnya kita sudah dengan mantap mengenal aktifitas yang 4E (enjoy, easy, excellent, earn) , kalau mau memulai sangat ditunggu tunggu, ketika melakukannya sangat asyik sehingga dunia seolah berhenti berputar, ketika mengakhirinya tidak mengatakan "akhirnya kelar juga".

    Pilih Cukup 2 atau 3 aktiftas yang benar2 4E, lalu fokuslah mengembangkannya dengan beragam pemagangan. Rasulullah SAW mulai magang berdagang bersama pamannya ke Syuriah/Syams ketika berusia 11-12 tahun. Karenanya beliau sudah punya bisnis sendiri di usia 15-16 tahun.

    Itulah mengapa dalam Islam, usia 10 tahun menjadi sangat penting. Kamar dipisah dan boleh dipukul jika meninggal sholat ketika usia 10 tahun, sesungguhnya memberi isyarat pada kita pada pendidikan sejak usia 10 tahun mulai sangat serius dan diperkenankan "ketegaan" yang produktif seperti memagangkan, membiarkannya berjibaku dengan bisnis kecil kecilan dsbnya ✅

    ReplyDelete
  13. 1. Bagaimana membersamai anak dgn rileks? terus terang mmg benar kdg2 saya ragu dan minder dlm membersamai anak jd blm bs rileks.
    Terimakasih ustadz utk penjelasannya

    2. Sebelum berhadapan sama anak, kita sdh belajar ilmu parenting spy bs ngendaliin emosi.. Tp ketika berhadapan langsung sama kondisi nyata nya suka kebablasan.
    Bgmn caranya buat mengontrol itu, biar ndak kebablasan...

    3. Saya sering mendengar istilah pengkondisian HE. Maksudnya spt apa ya? Dan bagaimana pengkondisian HE bila kedua org tua bekerja?

    ReplyDelete
  14. bunda Fitri di Sidoarjo yang baik,

    1. Rileks adalah pensikapan, lahir dari keyakinan. Minder juga pensikapan, lahir ketidakyakinan. Pertama temukanlah alasan (why) kenapa minder dan mengapa tidak bisa rileks, sepanjang belum bertemu Why nya maka akan selalu begitu. Karenanya dalam ber HE yang pertama kita dorong adalah jawaban atas mengapa harus HE.

    Bisa jadi ragu dan minder karena belum memahami esensinya, atau belum mencobanya dengan sungguh sungguh. Bagi beberapa orangtua awal mendidik anak sendiri bisa merupakan "nightmare" karena kebanyakan kita lebih sering menitip anak dan ingin serba instan.

    Bisa jadi ragu karena merasa sendiri, maka temukanlah teman teman seperjalanan yang bisa saling menguatkan. Tinggalkanlah lingkungan yang tidak menambah keyakinan.

    2. Sebelum menjawab "bagaimana" maka utamakan dulu menjawab "mengapa". Mengapa kita suka kebablasan atau suka tidak bisa mengendalikan emosi? Bisa karena lelah krn tidak ada waktu beristirahat atau suami tidak bersedia bergantian, bisa karena ada masalah internal atau eksternal, bisa karena tidak punya alasan kuat mengapa harus mengendalikan diri, bisa karena tidak ada misi keluarga yang disepakati bersama dsbnya.

    Siapapun bisa mengelola atau mengendalikan diri bahkan antusias melakukannya dengan baik, termasuk juga pada anak kita jika 3 R, yaitu Relevan dengan fitrah, Relation atau kedekatan atau cinta yang kuat, dan Reason atau alasan yang kuat mengapa harus bersikap demikian.

    3. Pengkondisian yang dimaksud adalah persiapan baik mental/keimanan maupun strategis dan teknis. Setiap keluarga itu unik, tiap anak unik, maka rancanglah persiapan atau pengkondisian yang bisa menjalankan kewajiban HE yang relevan dengan keunikan keluarga namun tetap pada framework yang benar.

    Bila keduanya bekerja, maka tidak berarti quantity time menjadi tidak penting disamping quality time, nah misalnya kita bisa manfaatkan teknologi informasi seperti WA, SMS untuk berdiskusi, atau sekedar menyapa dan mengirim pesan yang membuat anak merasa dicintai dan bersemangat untuk melakukan hal hal baik.

    Peran komunitas juga penting untuk bisa saling bergantian menitipkan anak dengan program yang sudah dirancang oleh ayahbunda maupun komunitas, ini jauh lebih baik daripada kepada DayCare maupun pelayan rumah tangga. Nanti ketika weekenda, para ayahbunda yang bekerja bisa bergantian mengasuh anak anak keluarga dalam komunitas. Istilah kita "it takes a village to raise a child", yaitu butuh orang sekampung untuk membesarkan anak. ✅

    ReplyDelete
  15. yasmine - palembangDecember 22, 2016 at 4:22 AM

    A) Apakah ada syarat khusus utk kita sebagai ortu yg melaksanakan HE utk anak kita?

    B) Bagaimana jika pasangan kita tidak setuju jika anak2 HE? Alasannya agar tidak terlalu membebani istri dalam mendidik. Bahkan suami hanya berperan membiayai anak sekolah tapi tidak terlibat aktif dalam mendidik anak. Saya pernah mendengar bahwa sejatinya Ayah adalah pendidik utama bagi anak, sedangkan ibu hanya pelaksana harian.

    ReplyDelete
  16. bunda Yasmine yang baik di Palembang,

    A) Syarat umumnya syukur dan shabar, syarat khususnya berani kembali kepada fitrah mendidik anak sesuai fitrahnya

    B) Keridhaan pasangan diperlukan dalam menjalankan apapun. Namun yakinkan pasangan bahwa HE adalah kewajiban setiap orangtua, baik anaknya bersekolah maupun tidak bersekolah. HE dalam prakteknya tidak membawa sekolah ke rumah, tidak terlalu banyak mengajar tetapi mendidik, tidak banyak mendikte tetapi memfasilitasi, tidak banyak membentuk namun menumbuhkan dstnya. Fitrah dan Adab adalah tanggungjawab orangtua bukan tanggungjawab sekolah, sekolah hanya tempat menambah pengetahuan dan keterampilan (human thinking & human doing) namun rumah adalah tempat mendidik menjadi manusia seutuhnya sesuai fitrahnya (human being)

    Mintalah kepada Allah agar membuka mata, telinga dan hati pasangan kita bahwa mendidik anak adalah kewajiban tak tergantikan ayah dan bunda. Mintalah kepada Allah agar diberikan Qoulan Sadida.

    Bergabunglah dengan komunitas untuk saling menguatkan dalam kebenaran dan keshabaran baik berupa nesehat lisan maupun kerjasama yang seru dan mengasyikkan dalam mendidik ✅

    ReplyDelete
  17. A. Saya mengenal HE baru di usia anak saya hampir 5 thn. Sebelumnya saya menerapkan hukuman pada anak dan membiarkan anak menangis sepuasnya dan ternyata itu sama sekali tidak membantu. Anak terus mengulangi dan mengulangi hal yg sama bahkan semakin parah. Pertanyaan saya apakah hal tsb mencederai fitrahnya dan apa yg harus dilakukan untuk memperbaiki fitrah yg sudah tercederai? (Sekarang saya sudah tidak menerapkan itu lagi)

    B. Apakah dibolehkan adanya 'hukuman' yang dimaksudkan mendidik anak tentang konsekuensi dalam konsep HE? Karena saya punya kekhawatiran apabila memberikan pengalaman tidak menyenangkan (dlm bentuk hukuman) kepada anak bisa berakibat kurang baik dalam mengawal perkembangan agar sesuai fitrahnya. Lalu bagaimanakah semestinya?

    C. Apakah dgn anak belajar menulis dan membaca iqro' di usia tsb jga akan berpengaruh buruk pada perkembangan fitrahnya? Sedangkan di sekolahnya (TK A) dia diajarkan itu.

    Terima kasih. Wassalamu'alaykum.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bunda Ludfia di Solo


      A. Setiap bentuk hukuman maupun reward (little punishment) pada anak di bawah 7 tahun, tentu menciderai fitrahnya. Cideranya fitrah tidak selalu dalam bentuk trauma, namun juga penyimpangan orientasi dalam kehidupannya. Misalnya menurut karena takut, beraktifitas tanpa antusias, belajar karena besok ulangan, sholat sekedar mekanistik dsbnya.
      Dalam banyak kasus, maka merecoverynya cukup dengan banyak memeluk, bisikan cinta, meminta maaf, mengatakan bunda sudah berubah sekarang, dsbnya. Kemanjaan anak di bawah 7 tahun adalah kewajaran, ini adalah tahap pra operasional, karenaya sholat baru diperintah di usia 7 tahun.

      B) Konsekuensi (hukuman dalam bentuk menanggung resiko atas perbuatan sendiri) menurut pengalaman dan riset yang saya lakukan, sebaiknya untuk anak di atas 10 tahun. Hukuman dan Hadiah atau "Stick n Carrot" sebenarnya hanya cocok untuk hewan. Tujuan diberikannya hukuman dan hadiah itu sebenarnya kan ingin merubah perilaku. Di barat ilmu merubah perilaku itu disebut behaviorisme, caranya dengan hukuman, hadiah, pembiasaan masal, over stimulus, intervensi dll. Karenanya ilmu psikologi di barat yang sekuler sebenarnya menolak "jiwa" sehingga lebih banyak otak atik otak dan otak atik perilaku.

      Dalam Islam, kita punya konsep fitrah, bahwa setiap anak punya potensi baik, karenanya tugas kita mengaktifasi kebaikan itu melaui aktifasi potensi fitrahnya (inside out) yaitu menimbulkan intrinsic motivation (niat yang kuat). Setiap amal itu karena niatnya, begitu pesan Nabi SAW. Maka tugas kita adalah temukanlah agar intrinsic motivation ini atau niat yang kuat ini muncul, cara nya dengan keteladanan, inspirasi dsbnya. Ingat tiap anak merespon berbeda untuk cara yang sama, ada banyak ragam keteladanan, maka temukan yang paling tepat.

      C. Idealnya "recognition" mengenal huruf dan bilangan di bawah usia 7 tahun sebenarnya belum perlu, kalaupun anak bisa membaca di usia di bawah 7 tahun, mereka belum bisa mengikat makna. Tetapi semua tergantung juga dengan "learning readiness" ananda, karena beberapa anak lebih siap menerima pengajaran namun beberapa yang lain belum siap. Intinya berempatilah pada perasaan, kebutuhan dan kesiapannya sesuai usianya.
      Jika "learning readiness" sudah ada, tetap perlu dipilih metode yang tidak membebani dan ditargetkan, karena di usia di bawah 7 anak sangat tidak suka belajar formal apalagi target. Kalaui dipaksa bisa saja, tapi bisa jadi mereka membenci belajar seumur hidupnya atau kehilangan kebahagiaan dan masa bermain anak anaknya✅

      Delete
  18. A. Tentang hal2 yg semestinya ortu lakukan; berkomunikasi dgn baik sesuai usia anak. Bagaimana cara melakukannya dengan kondisi:

    a) Anak pertama laki2 berumur 4 thn. Alhamdulilah setelah masuk paud kami mendpt masukan dari sekolah ttg kekurangan kami sbg home educator. Kata wali kelas, anak kami termasuk tertinggal dlm hal berbicara dibandingkan dgn teman2 lainnya, meskipun dlm hal karakter dan daya tangkap sangat baik.

    Sejarahnya, awal usia anak sampai sblm sekolah anak kami belajar melalui gadget sehingga komunikasi dua arahnya kurang. Meskipun skrg membaik namun perkembanganya masih ketinggalan dgn teman2nya sebagaimana umumnya anak 2 thn sdh bisa berbicara.

    b) Sedangkan anak kedua kami sepertinya lebih pasif lagi dlm berkomunikasi. Anak kami perempuan umur 2,4 thn. Dia sdh bisa teriak2 dan bergumam namun blm lancar.

    Pertanyaan:
    1. langkah apa lg yg harus kami lakukan sbg Home Educator utk meningkatkan kemampuan berbicara anak kami meskipun kami sdh mengajari bernyanyi, berbicara, bercerita (kadang)
    2. Apakah kasus ini termasuk speech delay?
    3. Point tentang berkomunikasi yg baik sesuai usia anak. Untuk berkomunikasi yg baik dengan usia anak balita, peletakan yg tepat untuk kata "Jangan dan Tidak boleh" semestinya bagaimana? tetap dipergunakan dg kondisi tertentu ataukah digantikan dg kalimat yg postif?
    4. Bagaimana cara berkomunikasi efektif pada anak laki2 usia 6 dan 4 tahun?
    5. Pada poin yang SEMESTINYA dilakukan orangtua terhadap anaknya, salah satunya adalah melayani (0-7 tahun), bolehkah dijabarkan maksud dari hal tersebut? dan untuk aspek apa saja?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayah bunda yang baik..

      1. Umumnya anak sudah menguasai 9000 kosa kata pada usia 3 tahun. Kemampuan berbahasa ini fitrah tiap manusia, penguatannya dengan bahasa ibu. Namun ada beberapa kasus anak lambat berbicara. Penyebabnya beragam, bisa karena lebih banyak interaksi dengan gadget, terlalu cepat berjalan tanpa merangkak, zat kimia dari makanan instan, bagian dari gejala autisme, otaknya lebih cepat bekerja dari lisannya dstnya. Therapynya berbeda beda tergantung penyebabnya. Namun secara umum, langkahnya menguatkan fitrah bahasa ini adalah dengan mengajaknya untuk lebih sering berbicara, orangtua lebih banyak mendorong anak untuk berekspreso dan lebih banyak mendengar.

      2. Ya ini kasus Speech Delay. Harus ditemukan penyebabnya. Saran saya diperiksakan ke psikolog atau psikiater.

      3. Kalimat positif sebaiknya didahulukan, menjelaskan kebaikan lebih berkesan daripada melarang keburukan. Gunakan nurani untuk memilih cara yang tepat.

      4. Komunikasi yang efektif adalah banyaklah mendengar dan biarkan mereka lebih aktif berbicara, jangan terbalik. Ada orangtua bertanya, bagaimana anaknya banyak bicara. Sederhana sebenarnya, yaitu orangtua banyaklah mendengar atau memberinya kesempatan bicara atau mengeskpresikan perasaan, fikiran dll. Gunakan ucapan kalimat singkat dan jelas, biasakan menatap matanya. Banyak nasehat yang panjang dan lebar kemana mana apalagi disampaikan emosional akan kehilangan esensinya. Anak batuta akan bingung dan tidak bisa menangkap intinya. Apapun yang terjadi, jangan serang pribadinya jika ananda berbuat sesuatu yang dianggap buruk, banyaklah diam.

      5. Melayani, memfasilitasi adalah peran orangtua pada fase 0-6 tahun. Aspeknya adalah memfasilitasi tumbuhnya 8 aspek fitrahnya.

      a. Fitrah keimanan>gairahkan cintanya pada Allah, Rasulullah n Islam. Kisah kisah kepahlawanan termasuk kisah kearifan lokal yang selaras Islam membantu utk membangun imaji2 positif ttg kebaikan, kebenaran dll

      b. Fitrah bakat> amati sifat uniknya. Pelihara hewan atau tumbuhan utk executive functioningnya

      c. Fitrah estetika dan bahasa> kembangkan sense of beauty nya dengan senirupa, bahasanya dengan bahasa ibu

      d. Fitrah jasad > fasilitasi pola makan yang alami, termasuk pola tidur, pola gerak di alam, pola kebersihan.

      e. Fitrah belajar dan bernalar > fasilitasi untuk cinta buku, belajar seru di alam terbuka

      f. Fitrah individualitas > fasilitasi ego sentris agar terpuaskan. Sosialitas terbaiknya di rumah dengan ayah ibunya

      g. Fitrah seksualitas > ayah ibu harus hadir penuh. Bangun attachment. Usia 3 tahun anak sdh dengan jelas menyebut gendernya ✅

      Delete
  19. 1. Ustadz harry dan bu septi, seperti apa contoh konkret outside in dan inside out supaya jelas perbedaannya.
    Terima kasih...

    2. Berkaitan dg metode Inside Out dalam mendidik anak, apakah cara 'pembiasaan' boleh dilakukan? Jika iya, apa parameter/batasan bahwa cara pembiasaan msh dalam taraf boleh, bukan taraf doktrinisasi/penjejalan?

    3. Berkaitan dg fitrah anak, terkadang saya merasa kesulitan saat hrs disandingkan dg adab. Kapan saat yang tepat mengajarkan adab kepada anak? (misal; adab makan, adab bertamu, padahal anak anak fitrahnya suka jalan kesana kemari dan eksplorasi ini itu)

    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayah bunda yang baik..

      1. Inside Out itu adalah upaya agar anak beramal karena niat dari dalam dirinya (intrinsic motivation), sebagaimana dalam Islam "sesungguhnya amal itu karena niat". Metodenya bisa dengan keteladanan, suasana atau atmosfir keshalihan, inspirasi hebat, idea menantang, hubungan yang kuat serta kecintaan yang mendalam, dukungan untuk konsisten dan disiplin dstnya. Caranya, tiap anak merespon berbeda untuk tiap cara, namun temukanlah cara yang membuatnya antusias dan penuh gairah. Ada yang antusias dengan bermain, ada yang antusias kisah kisah, ada yang antusias dengan dicontohkan dll. Dalam perspektif fitrah, semua anak punya potensi yang cukup bahkan lebih untuk menjadi seorang khalifah karenanya tugas kita tidak banyak intervensi atau outside in.

      Outside ini adalah upaya intervensi eksternal untuk membuatnya beramal atau extrinsic motivation, seperti hukuman, hadiah, pembiasaan, over stimulus, drilling dstnya. Mengajar itu sedikit diperlukan pada tahap awal, namun terlalu banyak mengajartkan akan membuat anak minta diajarkan sepanjang hidupnya.

      2. Pembiasaan boleh saja untuk melatih keterampilan tertentu seperti toileting, namun pembiasaan dalam berbuat baik tanpa kesadaran atau motif yang tumbuh atau bangkit dari dalam maka tidak akan permanen.

      3. Fitrah dan Adab punya proporsional masing masing untuk tiap tahap. Secara umum, adab mulai disampaikan sebagai perintah (order) orangtua saat anak berusia 7 tahun. Perintah sholat adalah adab pada Allah, baru diperintahkan pada usia 7 tahun tetapi belum kewajiban sampai usia 14 tahun.
      Jika fitrah keimanan tidak dibangkitkan (inside out) pada usia 0-6 tahun melalui keteladanan, kelekatan, kisah inspiratif, suasana keshalihan dll sehingga gairah cinta dan antusias kepada Allah, Rasulullah SAW dan Islam tumbuh hebat, apakah anak akan menerima perintah sholat (adab) ketika usia 7 tahun? Jadi adab di usia 0-6 diteladankan sebagai nilai nilai dalam diri orangtua atau di rumah (tidak ada perintah adab sebelum usia 7 tahun), 7-10 diperintahkan dan diinteraksikan, 11-14 digembleng dengan kehidupan. Diharapkan di usia 15 tahun adab sudah inherent dalam diri anak yang telah mukalaf atau aqilbaligh✅

      Delete
  20. - Bagaimana membangkitkan fitrah keimanan anak sejak awal spt ini. Apa saja yg bisa kita lakukan utk membangkitkan fitrah tsb dan mengenalkan anak ttg Rabb-nya? Shafa cepat sekali menangkap ttg lagu anak2, tp ketika saya kenalkan lagu2 islam anak2 spt tdk tertarik utk lihat dan mendengarkan ya?

    - Bagaimana cara mendorong dg penghayatan aqidah berupa cinta kpd Allah dr dlm diri anak2 utk mengajarkan Sholat utk anak usia 2 thn yg msh blm fokus jika dikasih penjelasan (inginnya bermain)

    - Bagaimana caranya memunculkan Fitrah kesucian itu di usia anak 3,5 thn.

    - Mohon maaf ustadz, saya mau bertanya tentang membangun imaji positif kepada anak tentang Allah. Mohon diberi contoh teknisnya dan contoh imaji negatif tentang Allah yang harus kita hindari.

    Jazakallah atas jawabannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejak lahir anak sudah bersyahadah Rubbubiyatullah (karena sudah bersaksi Allah sebagai Robb ketika di alam rahiem QS 7:172), jadi fitrah keimanan mereka sudah ada dalam tauhid Rubbubiyah (Allah sebagai pemberi rezqi, pencipta, pemilik, pemelihara).

      Fase 0-6 tahun adalah fase aktifasi dan pengokohan fitrah keimanan dalam hal Tauhid Rubbubiyatullah. Pada fase 7-10 tahun, dimulai fase Tauhid Mulkiyah, secara bertahap anak dikenalkan Allah sebagai Pembuat hukum dan yang diberi Wala' tau loyalitas, ditandai dengan perintah Sholat dan interaksi nalar dengan Qouliyah dan Kauniyah). Usia 11-14 tahun, ini fase Tauhid Uluhiyah, keimanan perlu diuji dalam kehidupan nyata.

      Secara umum. Fitrah keimanan ini ditumbuhkan atau dibangkitkan dengan keteladanan dan atmosfir keshalihan pada tahap awal juga selanjutnya sehingga menumbuhkan ghairah cinta dan antusias pada alHaq.

      Pada fase 0-2 tahun, fitrah keimanan ditumbuhkan dengan memberikan ASI secara penuh cinta dan kelekatan. Kemudian fase 3-6 tahun melalui imaji imaji positif melalui kisah, contoh, bermain di masjid yang ramah anak dll sehingga anak cinta pada Allah, Rasulullah SAW dan Islam.

      Sederhana sebenarnya, dengan selalu mengkaitkan Allah dalam peristiwa sehari2. Jika hujan turun, maka sebutlah Allah dengan antusias, ceritakan betapa baiknya Allah dengan turunnya hujan. Ketika malam, bulan bersinar, bintang2 bertaburan maka ajak anak untuk melihatnya dan menceritakan dengan antusias bahwa Allahlah yang membuatnya itu semua dengan keren banget. Jika pulang bawa oleh oleh, katakan bahwa Allah menitipkan buat ananda melalui ayah bunda, ketik adzan berkumandang, biasakan wajah sumringah di hadapan anak dstnya. Tajamkan naluri dan nurani (fitrah) sebagai ayah dan bunda untuk senantiasa mampu mengaitkan dengan Allah. Melakukan Tazkiyatunnafs amat penting bagi orangtua sehingga Allah berikan hikmah yang banyak dan Qoulan Sadida (tutur, idea, sikap yang layak diteladani). ✅

      Delete
  21. 1. Arti Dari "Bukan sekolah/tdk sekolah yg ditekankan" bukan berarti TIDAK mementingkan sekolah kan?. Memang sistem pendidikan negara kita blm Bagus, namun selama ini sy merasa dan melihat pendidikan sekolah mendukung pendidikan di rumah. Meskipun bukan utama namun harus. Mohon tanggapan!
    2. Apakah anak yg disekolahkan formal (contoh di SDIT/PONPES) maka fitrah yg ada dalam anak tsb akan hilang karena banyaknya kurikulum yg dijalani anak?
    3. Apakah metode dengan mengcombine/menggabungkan metode belajar formal dengan belajar berbasis fitroh itu bisa dilakukan? kalau bisa bagaimana caranya?
    4. Apa yg dimaksud "imaji negatif akan melahirkan luka persepsi, Dan luka akan membuat persikapan yg buruk ketika anak dewasa"?. Dapatkah diberi contoh kongkritnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bunda Tia yang baik,

      1. HE tidak mempermasalahkan anak bersekolah atau tidak, dengan catatan bahwa tanggungjawab mendidik fitrah dan adab sepenuhnya adalah tanggungjawab orangtua. Jika ada sekolah yang mendukung maka sangat baik dan tidak mengurangi sedikitpun tanggungjawab mendidik orangtua thd anaknya. Jika sekolah tidak mendukung pengembangan fitrah dan adab, tentu sebaiknya dihindari. Make sense ya.

      2. Perlu dibedakan antara pendidikan dan pengajaran. Sekolah sebenarnya lebih banyak menjalankan fungsi pengajaran atau akses kepada pengetahuan formal, keterampilan formal dan ijasah. Hari ini kita menyadari bahwa tersekolahkan dengan baik (wellschooled) belum tentu terdidik dengan baik (well educated). Sekali lagi jika sekolah mendukung penumbuhan fitrah anak termasuk fitrah orangtua utk berperan mendidik anaknya, maka tidak masalah.

      3. Bisa. Caranya ada kesepakatan antara sekolah dan rumah untuk berbagi peran. Karena HE tidak membawa sekolah ke rumah, maka orangtua fokus pada penumbuhan fitrah dan adab yang memang tanggungjawabnya, sementara sekolah fokus pada akses pengetahuan dan keterampilannya utk mendukung rumah bukan sebaliknya. Harus ada kerjasama agar terintegrasi dan tersinkronisasi dengan baik.

      4. Contoh, ada seorang ibu yang mengeluh anak gadisnya sulit disuruh sholat ketika usia 11 tahun. Usut punya usut ibunya telah membelikan mukena di usia 3 tahun dan mencubit anaknya jika tidak sholat. Imaji negatif anak tentang sholat, melahirkan luka persepsi bahwa sholat itu menjengkelkan dan mengerikan, maka ketika beranjak dewasa dia membenci sholat sebagai pensikapan yang buruk atas masa lalunya

      Berbeda dengan Husein RA yang ketika balita asyik bermain kuda kudaan di punggung kakeknya yaitu Nabi SAW. Imaji2 indah dan positif ketika bermain kuda2an saat kakeknya sujud itulah yang membuat keindahan persepsi ttg sholat. Jarang yang tahu ketika dewasa, Husein RA diberi gelar AsSajaad, yaitu pemuda yang cinta sujud kepada Allah ✅

      Delete
  22. Assalamualaikum wr wb,
    Ustadz Harry dan Bu Septi....

    Pada Bagian ke 2 Ustadz Harry / Bu Septi: Tugas mendidik bukan menjejali " OUT SIDE IN" ttp ''INSIDE OUT" yaitu menemani anak menggali & menemukan fitrah2 baik itu, shg mereka menjadi manusia seutuhnya tepat mencapai ketika usia aqil baligh.

    Yang saya tanyakan apa indikator keberhasilan yang bisa diukur dari tiap fitrah itu?
    Misal:
    - Pada fitrah kesucian;
    Memiliki sifat mengenal & mengetahui Tuhannya. Nah, ini apa ukuran/ capaian keberhasilannya?
    - Kemudian
    Fitrah belajar menjadi seorang pembelajar

    Begitu juga dengan fitah yang lainnya. Terimakasih.

    ReplyDelete
  23. bunda Tantia yang baik di Depok,
    Setiap potensi fitrah kelak akan menjadi peran terbaiknya, dan inilah ukuran akhirnya.
    Fitrah keimanan jika tumbuh paripurna kelak menjadi peran untuk menyeru kepada Tauhid
    Fitrah belajar dan bernalar jika tumbuh paripurna kelak menjadi peran innovator untuk memakmurkan dan melestarikan alam/bumi
    Fitrah bakat jika tumbuh paripurna kelak menjadi peran dalam bidang kehidupan
    Fitrah seksualitas jika tumbuh paripurna kelak menjadi peran keayah bundaan sejati yang baik dstnya.
    Fitrah estetika dan bahasa jika tumbuh paripurna kelak menjadi peran memperindah dan mengharmonikan peradaban
    Fitrah individualitas dan sosialitas jika tumbuh paripurna kelak menjadi peran kepemimpinan/leadership/imama dan followership/makmuman
    Fitrah jasmani jika tumbuh paripurna kelak mendukung peran peran lainnya dalam fisik.

    Namun tiap tahap ada indikator nya kesuksesannya.
    Secara umum indikator setiap aspek fitrah adalah antusias dan bahagia.

    Indikator sukses fitrah keimanan di tahap 0-6 tahun adalah gairah dan antusias kecintaan pada Allah, pada Rasulullah SAW, pada alQuran dstnya. Indikator sukses pada tahap 7-10 tahun adalah keridhaan menerima perintah Allah. Indikator sukses pada tahap 11-14 tahun adalah totalitas kecintaan, ketaatan, dstnya (Tauhid Uluhiyatullah).

    Indikator sukses fitrah belajar dan bernalar di usia 0-6 tahun adalah antusias dan bebas bergerak bereksplorasi di alam atau ruang terbuka, mencintai buku sebelum membaca buku dstnya. Indikator sukses fitrah ini di tahap 7-10 tahun adalah antusias eksplorasi dan meneliti segala yang relevan di alam. Indikator sukses di usia 11-14 tahun adalah kemampuan merancang penelitian atau riset serta berbuat sesuatu (biasanya relevan dengan bakat) untuk membantu melestarikan alam atau membuat bumi semkain hijau.

    Indikator sukses fitrah bakat di tahap 0-6 tahun adalah sifat uniknya tumbuh dengan baik dapat diamati, dikenali dan dipastikan. Indikator sukses tahap 7-10 tahun adalah ditemukan aktifitas 4E (enjoy, easy, excellent, earn) yang relevan dengan sifat unik. Indikator sukses tahap 11-14 tahun adalah mulai dikembangkan beberapa peran spesifik sehingga diharapkan menjadi peran peradaban ketika berusia 15 tahun.

    Catatan. Tentu saja penilaian nya otentik dari orang yang mengenal dan dekat dengan anak kita dengan sebaik2nya, siapa lagi kalau bukan kedua orangtuanya dan guru kehidupannya. Tahapan di atas adalah tahapan ideal, tiap anak bisa lebih cepat atau lebih lambat dalam beberapa aspek ✅

    ReplyDelete
  24. Saya mau tanya, bagaimana memulai HE? Saya sudah membuat kurikulum HE untuk putri saya berusia 3 tahun 8 bln, tapi kesulitan untuk menjabarkannya ke dalam jadwal harian. Bagaimana membuat jadwal harian untuk HE? Terimakasih

    ReplyDelete
  25. bunda Dian di Surabaya,
    Secara strategis, memulai HE adalah dengan menguatkan keyakinan dan konsep HE. Secara teknis memulai HE adalah memahami tahapan perkembangan bagi setiap aspek fitrah kemudian menuangkannya dalam program mingguan. Jangan lupa bahwa tiap anak unik, metode boleh sama namun temukan cara yang paling tepat. Untuk memulainya, mulai saja dengan kegiatan yang paling sederhana, mengalir saja dan selalu berempati untuk mengamati antusias anak pada setiap kegiatan. Buat dokumentasi yang mencatat nama kegiatan, deskripsi atau tahapan kegiatan, tujuan kegiatan jika ada, pengetahuan yang didapat, keterampilan yang diperoleh, sikap yang timbul ketika berkegiatan dan jangan lupa antusias anak. Antusias bisa mewakili ukuran penumbuhan fitrah. Petakan semua aspek fitrah ada setiap kegiatan sebisa mungkin. Untuk usia 0-6 tahun, secara garis besar lihat jawaban no 9⃣ point 5.

    Dokumentasi ini menjadi base line untuk berimajinasi melahirkan ide2 utk melakukan kegiatan berikutnya. Lalu ulangi lagi prosesnya dengan mengamati dstnya lalu kembali di dokumentasi.

    Jika siklus berkegiatan ini terus dilakukan (empati, imajinasi, solusi kegiatan berikutnya lalu dokumentasi kemudian empati, imajinasi, solusi kegiatan begitu seterusnya)

    Hemat saya untuk usia pra latih di bawah 7 tahun, jadwal ketat harian berpeluang membuat mereka mengalami metal hectic. Jangan ingin segera melihat yang tampak, tetapi fokuslah pada dampak di masa depan. Berkegiatan ini bisa mengalir begitu saja , bisa karena ada peristiwa yang berkesan, bisa juga direncanakan sebagai lanjutan kegiatan sebelumnya. ✅

    ReplyDelete
  26. - HE nyaris selesai di usia 14 th dan stlh itu ortu adalah coach. Bisakah dijelaskan lebih lanjut apa peran perbedaannya? Dan bgmn menjalankannya? Jika pd usia 14 tahun anak belum menemukan fitrah dan bakatnya, sebaiknya apa yg ortu lakukan?


    - Saya msh belum paham ttg posisi ortu sbg coach untuk anak2 di atas 14 thn. Mohon penjelasan lagi dgn contohnya ustadz Hary/ bunda Septi, atau siapa pun ayah bunda yg sdh lebih berpengalaman ��

    Terimakasih atas kesempatan, jawaban dan pencerahan di matrikulasi ini.. wassalamu'alaikum.wrwb

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayah bunda yang baik,

      Untuk usia 15 tahun ke atas sebenarnya peran orangtua lebih sebagai Partner atau Mitra Sayidina Ali RA menyebutnya sebagai teman utk 7 tahun ketiga atau 15-21) karena secara syariah usia 15 tahun ke atas, anak dan orangtua sudah setara.
      Peran coach bisa juga jika orangtua menjadi coach dalam karir bakatnya (maestro) atau coach dalam spiritualnya (murobby). Sejak usia 15 tahun, selain sudah full memikul beban syariah, nafkah dan boleh diizinkan perang dan menikah, secara pendidikan sudah bukan lagi pedagogi namun andragogi atau pendidikan orang dewasa.
      Dalam prinsipnya anak anak yang sudah 15 tahun ke atas bukan anak anak lagi, dan pada prakteknya mereka harus banyak diberi tanggungjawab pada peran peran real kehidupan, di sosial, di bisnis, di organisasi dstnya. Orangtua dapat menjadi coach bagi anak dalam peran2 tsb✅

      Delete
  27. Melihat pertanyaan pertanyaan di atas, umumnya seputar keraguan, ketidakyakinan untuk menjalankan HE dstnya. Memang generasi Y kelahiran tahun 80 dan 90 seperti kebanyakan Ayah Bunda di group ini berada pada masa transisi dimana telah tumbuh kesadaran mendidik anak sesungguhnya adalah kewajiban para orangtua dan menyerahkan pendidikan anak pada sistem persekolahan modern cukup beresiko terhadap fitrah dan adab anak anak kita. Namun di sisi lain, generasi kelahiran 80 dan 90 ini juga masih meraba bagaimana seharusnya menjalankan tanggungjawab mendidik anak (HE) ini, bagaimana menjawab kritikan orangtua, saudara maupun tetangga, bagaimana masa depan anak bila tak berijasah dsbnya.

    Di zaman saya orang orang yang berHE lebih aneh lagi, bahkan orang orang yang mendirikan sekolah yang mengundang orangtua untuk bahu membahu bersama mendidik anak (Community based Education) dianggap lebih gila lagi.

    Tetapi insyaAllah, ayahbunda yang baik, jangan ragu dan risau, hari ini sudah banyak kita lihat contoh keluarga yang menjalankan HE dan anak anaknya bisa berkuliah, atau lebih mandiri dalam kehidupan melampaui anak anak lain. Mereka bukan keluarga sempurna, banyak aral melintang dan masalah yang dihadapi, belum lagi ejekan dari orang orang yang tidak memahami. Namun hari ini mereka menjadi keluarga yang senyumnya lebih lebar dan bahagia menyaksikan keindahan peran dan akhlak anak anaknya.

    " Jangan tinggikan suara, tapi deraskan maknamu, karena hujanlah yang menumbuhkan bunga bunga,bukan petir dan guruhnya "

    Tetap rileks dan optimis ya, jazakumullah atas perhatiannya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan, waswrwb ✅

    (Ustd. Harry Santosa)

    ReplyDelete

Silahkan berkomentarlah dengan baik dan sopan agar bisa saling berbagi manfaat bagi banyak orang ^_^