Fitrah Orang Tua (Keayahbundaan)

Fitrah Orang Tua (Keayahbundaan)


Materi Pokok 2 Home Education: Fitrah Orangtua (Keayahbundaan)

"Tetap optimis, karena Allah telah menginstall parenting pada tiap fitrah ayah bunda." Bahkan pada tiap ayah bunda parenting yang diinstall pun berbeda-beda. Begitulah hebatnya ilmu Alloh SWT.

Selain belajar tentang fitrah anak, mari belajar fitrah ayah bunda. Karena yang paling ahli mendidik anak bukanlah orang lain, tapi ayah bunda mereka. Fitrah ayah dan fitrah bunda adalah karakter-karakter yang Alloh lekatkan pada mereka, yang mempengaruhi perilaku dan pola asuh mereka terhadap anak-anak mereka.

Tiga Fitrah Minimal dimiliki oleh Ayah Bunda

Pertama, fitrah sebagai manusia biasa yang punya kebutuhan, kelebihan, kelemahan, kegembiraan, keletihan, emosi dan sebagainya. Jadi, dalam pendidikan anak perlu disadari bahwa : ayah bunda juga manusia, bukan robot parenting

Kedua, fitrah sebagai laki-laki dan perempuan, yang wujud dalam maskulinitas dan feminimitas. Sehingga, dalam pengasuhan dan pendidikannya ayah dan bunda harus berbasis pada karakternya sebagai laki-laki dan perempuan.

Ketiga, fitrah sebagai orang tua bagi anak-anaknya, yang memiliki hak, kewenangan dan kewajiban atas anak-anak. Mereka bukan hanya pengasuh dan pelayan, tapi juga pemimpin dan pengelola.

Jangan sampai teori parenting yang kita pelajari melumpuhkan naluri, intuisi dan firasat parenting kita.

"Minta fatwalah pada hatimu, karena kebajikan adalah apa-apa yang menenteramkan hati" (AlHadits)

Mereka-mereka yang terbiasa dengan amalan nafilah (sunnah), maka Allah akan menjadi mata, telinga, tangan dan kaki, yang dengannya di melihat, mendengar, bekerja dan berjalan (dari Hadits Qudsi)

Belakangan kita agak mengabaikan dan kurang mempertajam firasat. Padahal Rasulullah SAW bersabda :

"Hati-hatilah dengan firasat mu'min. Sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah"

Parenting yang baik adalah parenting yang mampu meningkatkan kepercayaan diri para Ayah bunda untuk mendidik anak-anaknya sendiri berdasarkan fitrah pendidikan. Parenting yang buruk adalah parenting yang membuat Ayahunda tergantung kepada para mentor parenting dalam mendidik anak-anaknya.

Jika ditanyakan kepada saya "apa modal yang terbaik dalam parenting?", maka saya akan mengatakan modal terbaik dalam parenting adalah cinta dan ketulusan.




Sebagai Ayah bunda dengan segala kelemahannya, maka kita pasti akan melakukan sejumlah kesalahan dalam mendidik anak-anak kita. Namun, cinta dan ketulusan akan mengkoreksi segala kelemahan dan kesalahan tersebut. Sungguh, andai kita hanya mengandalkan kemampuan kita saja dalam mendidik anak-anak kita, tentulah anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang kacau dan durhaka.

Namun, Allah tak pernah tidur mengintervensi dan memperbaiki segala kelemahan dan kesalahan kita dalam mendidik anak-anak kita. Maka setiap malam sebelum tidur bermohonlah kepada Allah agar Ia mendidik anak-anak kita, serta mengkoreksi segala kesalahan dan kelemahan kita.

Bashirah dalam hal apapun lahir dari totalitas, dedikasi dan kepedulian yang tinggi terhadap segala hal yang akan kita tangani.

Allah telah berjanji bahwa orang-orang yang total dan dedikatif dalam menangani segala hal, maka Allah akan menunjukkan banyak jalan baginya. Dan mereka mereka yang telah menjual dirinya kepada Allah, diantaranya melalui pendidikan bagi anak-anaknya, maka Allah akan menjadi penyantun baginya.

Sahabat, Tentang cara mempertajam bashirah saya sudah menyampaikannya di atas. Salah satu indikatornya adalah : jika hati kita tenteram untuk melaksanakan sesuatu terhadap anak-anak kita, walaupun itu bertentangan dengan sejumlah teori parenting, maka sesungguhnya ketentraman hati itu adalah pertanda dari bashirah Islamiyah.

Bashirah Islamiyah itu bukan hanya menjadi hak prerogatif dari orang-orang yang memiliki tingkat keimanan tertentu saja, karena sesungguhnya Allah tidak pernah kikir memberikan ilham-ilhamNya kepada siapa saja. Bahkan ilham dari Allah Ia berikan terhadap orang kafir sekalipun. Makanya tak mengherankan jika kreasi iptek banyak Allah ilhamkan kepada orang-orang kafir.



Jadi jangan pernah merasa tak cukup bertaqwa untuk bertanya pada hati. Allah tidak seselektif yang kita bayangkan. Kasih-sayangNya jauh melampaui angan-angan paling optimis kita. Sahabat, Jauhi hal-hal yang meragukan, lakukan hal-hal yang hati kita yakin. Yakin itu bermula dari ilmu yang melahirkan pemahaman. Jika sebuah ilmu justru melahirkan keraguan dan ketidakpercayaan diri, maka ilmu itu harus dijauhi. Ragu dan waswas itu datang dari syaithan. Obatnya adalah ilmu dan ta'awudz

Sumber: Materi Kulwap HEbAT Community oleh Ust. Adriano Rusfi, Psi dan  Disusun oleh: Tim Pengurus Pusat HEbAT

15 comments :

  1. Assalamualaikum

    Tadi dikakan di materi klau parenting yg buruk jika kita tergantung dg mentor. Klo kasus anak ABK (korban Kdrt) yg sedang menjalani terapi perilaku, sejauh mana kita bsa bersinergi dengan mentor dalam menjalankan terapi tersebut? Jazakillah Khoir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dalam parenting kita memang butuh mentor, yaitu orang yang menguasai konsep-konsep pendidikan dan perkembangan anak, tentunya yang berbasis Islami.

      Namun demikian, mentor yang terbaik dalam mendidik anak kita sendiri adalah Allah, sedangkan pendidik terbaik tetaplah ayahbundanya.

      Untuk anak-anak dengan kasus spesial, seperti ABK, korban KDRT dsb, tentunya kita butuh pendampingan ahli, karena kasusnya luar biasa dan tidak normal. Dalam hal itu kita bisa mempercayai mentor lebih banyak.

      Namun demikian, pendidikan itu juga sangat melibatkan hati dan hubungan rasa. Dan ini adalah wilayah kekuasaan ayahbundanya.

      Sehingga jika rekomendasi mentor pada saat tertentu terhadap anak kita tak cocok dengan nurani kedua ayahbundanya, maka janganlah rekomendasi mentor kita telan mentah-mentah.

      Pada saat itu, kita membutuhkan opini kedua (second opinion) dari ahli yang lain. Dan yang harus kita ikuti adalah opini yang paling meyakinkan dan menenteramkan hati kita.

      Pada situasi semacam itu kita juga butuh petunjuk dari Allah. Sehingga jangan lupa banyak berdoa

      Delete
  2. Assalamu'alaikum

    1. Saya ingin bertanya dalam mendidik anak saya sering bingung krn terlalu banyak membaca referensi ttg parenting baik yg islami maupun yg bukan...bahkan sy sering membaca ttg pendidikan yg dilakukan dirumah oleh beberapa bunda yg menurut sy sgt bagus. Akhirnya sy kebingungan sendiri mau pake metode yg mana...terus terang sampai saat ini sy masih belum bisa menentukan bgm cara sy hrs mendidik anak sy yg ada di fase 0-7 ��. Mhn pencerahannya...

    2. Setelah saya melihat banyaknya ilmu parenting, melihat orang lain yg memposting cara-cara mereka mendidik anak kok membuat saya minder. Jujur saya adalah ibu bekerja dimana pendidikan saya dibantu oleh ibu saya. Namun, org2 yg memposting itu jg ibu2 bekerja tapi sepertinya hebat kok bisa gitu pikir saya. Jadi kadang saya berpikir bisa ga ya minimal saya bisa mendidik anak seperti ibu saya, padahal ibu saya tdk memakai ilmu parenting alhamdulilah bisa dikatakan sukses.

    Pertanyaan saya bagaimana meningkatkan kepercayaan diri saya dlm mendidik anak dgn adanya fenomena yg sy ceritakan di atas disamping itu ada perbedaan cara mendidik saya dgn suami.

    3. Mengenai mempertajam bashirah, saya kadang menemukan dua teori parenting yg menurut saya, sekali lagi menurut saya sama2 baik dan keduanya memiliki rujukan yg benar dan argumen yg kuat. Lalu dalam penerapannya saya pilih salah satu yg saya mampu menjalaninya atau dgn kata lain mudah dan simple. Bagaimana agar pilihan saya memang benar2 terbaik diantara yg baik.
    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada dasarnya Allah telah mengilhamkan pada diri kita tentang prinsip-prinsip dasar pendidikan anak. Bahkan Allah telah mengilhamkan parenting yang berbeda untuk anak yang berbeda.

      Oleh karena ini, mari kita menggali ke dalam diri kita sendiri ilham-ilham parenting yang telah Allah install ke dalam hati kita, agar kita tak menjadi robot-robot parenting yang mengikuti pandangan pakar.

      Dalam hal ini pandangan-pandangan ahli parenting sebenarnya bersifat pendukung dan pemantap bagi ilham parenting yang Allah berikan. Pandangan ahli parenting juga berfungsi untuk membimbing kita pada petunjuk Allah.

      Maka jika ada dua pendapat pakar parenting yang sama-sama meyakinkan, pilihlah salah satu yang hati kita tenteram untuk mengikutinya. Terkadang, untuk anak A pandangan ahli parenting X lebih mengena. Sedangkan untuk anak B justru pandangan ahli Y lah yang lebih pas.

      Untuk itu, ayahbunda perlu lebih mengasah nurani dan intuisi parenting, dengan lebih banyak tilawah, ibadah sunnah dan berdoa.

      Untuk itu, rasa percaya diri bahwa kita dipandu Allah dalam mendidik anak-anak kita perlu lebih ditingkatkan.

      Jangan lupa, perilaku anak-anak kita juga merupakan cermin terbaik apakah parenting yang telah kita pilih dan lakukan telah tepat atau tidak

      Delete
  3. 1. Fitrah ayah/bunda adalah karakter yg Allah lekatkan yg mempengaruhi pola asuh anak. Bagaimana jika fitrah ayah/bunda sudah terciderai (mungkin krn pola asuh di rmh ayah/bunda ketika kecil, lingkungan dll) atau karakter2nya sudah jauh dr fitrah iman. Seberapa besar ia akan mempengaruhi anak? Dan bagaimana cara memperbaiki jika anak sudah terlanjur di didik dg cara yg tidak sesuai fitrah? terimakasih atas kesempatan belajar di grup ini dan ilmu nya ust. Adriano.

    2. Klau ada fenomena orang tua yg malah menyakiti anaknya berbuat kasar bahkan membunuh anak kandungnya sendiri, lalu di manakah fitrah keayahbundaan nya?

    3. Bagaimana jika ada orangtua yg sifat maskulinitas cenderung dimiliki oleh ibu dan feminim dimiliki oleh ayah? Bgmn pngaruhnya hal ini pd anak dan bgmn hrsnya ortu tsb bersikap? Jzk

    4. 'Fitrah sebagai manusia biasa'. Sebagai orangtua yg memiliki kekurangan dan kelemahan ada kalanya sulit mengendalikan "emosi"dalam menghadapi sesuatu hal terhadap anak, terutama anak remaja. Jika emosi sudah terlontarkan dan menciderai fitrah anak tersebut, lalu bagaimana kita letakkan fitroh tersebut? apa cukup kita pahami kesalahan tersebut lalu memperbaiki diri atau bagaimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada dasarnya tak ada ayahbunda yang sempurna. Toh pakar parenting sekalipun bukanlah manusia sempurna yang mendidik anaknya tanpa cela. Bahkan banyak pakar parenting yang menjadi "pakar" karena belajar banyak dari kesalahan yang dilakukannya

      Oleh karena itu, seberapapun buruknya kepribadian pada ayahbunda, sebagai produk pendidikan yang keliru dari masa lalu, harus tetap percaya diri bahwa dia sanggup memikul amanah dalam mendidik anak-anaknya.

      Adalah mustahil Allah memberikan amanah anak-anak pada kita seandainya kita tak pantas untuk mendidiknya. Allah Maha Tahu tentang apa yang Dia amanahkan dan kepada siapa Dia amanahkan.

      Untuk itu, banyak-banyaklah minta hidayah kepada Allah tentang cara terbaik dalam mendidik anak, apalagi saat kita sadar betapa kita memiliki masa lalu yang begitu bermasalah dalam pendidikan.

      Ketika kita merasa sering melakukan kekeliruan dalam pendidikan anak, minta ampunlah kepada Allah, dan mintalah Allah untuk mengkoreksi kesalahan tersebut pada anak, menutupi kekurangannya, membasuh luka yang ditimbulkannya dan sebagainya.

      Ayahbunda sekalian, sungguh seandainya Allah tak terlibat dalam mendidik anak-anak kita, dan hanya mengandalkan kecakapan mendidik yang kita miliki saja, tentulah anak kita akan menjadi anak-anak durhaka semua.

      Allah-lah sebenarnya yang telah mengkoreksi kekeliruan kita dalam mendidik anak-anak kita.

      Selain itu, mari kita terus menerus memperbaiki dan meluruskan fitrah kita. Ayahbunda dengan fitrah yang lurus insya Allah akan mendidik anak-anaknya ke jalan yang lurus, walau ia buta parenting

      Delete
  4. Assalamualaikum...

    1. Setelah menyelami ilmu2 HEbAT ini sy jd bingung mau menyekolahkan anak2 sy, apakah dgn menyekolahkan di sekolah Islam sdh bisa menjawab HE?.

    2. Setelah menjadi bagian dari komunitas HEbAT ini, peran2 apa yg bisa kita berikan kpd masyarakat melihat fenomena pemuda yg telah aqil tp belum baligh dimana mereka tidak memiliki wadah utk berkreasi dan mengaktualisasikan diri, bahasa trendnya mereka sedang mencari jati diri.

    3. Ust.
    Manakah yang lebih prioritas ketika ada tuntutan kewajiban untuk berdakwah di luar dengan mendidik anak?. Sering disampaikan bahwa ketika qt menolong agama Allah maka Allah yang akan menjaga anak-anak qt.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mendidik anak-anak kita sendiri adalah tanggung jawab utama yang tak dapat dialihkan dan digantikan. Bahkan jika karena mendidik anak sendiri kita tak lagi punya waktu untuk berdakwah dan mendidik anak-anak lain, maka itu sama sekali tak berdosa.

      Ada beberapa hal yang keliru yang harus kita luruskan dalam pendidikan anak-anak kita :

      Pertama, anggapan bahwa "Sebagaimana aku lebih cakap dalam mendidik anak orang lain, semoga ada orang lain yang juga cakap dalam mendidk anakku". Seakan kita ingin bertukar peran dengan orang lain dalam mendidik anak-anak.

      Kedua, anggapan bahwa "Jika kita menolong agama Allah, dengan berdakwah, maka Allah akan menolong kita dengan cara mengutus orang lain untuk mendidik anak-anak kita"

      Saya rasa kedua pandangan itu keliru, menyesatkan, dan apologetik. Mari kita kembali pada prinsip ajaran Islam : Mana yang wajib, mana uang sunnah; mana yang prioritas mana yang bukan.

      Harus diakui bahwa terkadang mendidik anak orang lain seakan lebih mudah daripada mendidik anak sendiri, sehingga dicari-carilah alasan untuk tak mendidik anak sendiri.

      Tapi justri disinilah letak mujahadahnya. Bagaimana segala kendala ini tak membuat kita mudah menyerah dan mencari-cari alasan.

      Kita terkadan masih sulit membedakan antara mendidik dengan mengajar. Mengajar anak orang lain memang lebih mudah daripada mengajar anak sendiri. tapi percayalah bahwa mendidik anak sendiri lebih mudah daripada mendidik anak orang lain.

      Pertanyaannya adalah : apakah selama ini kita mendidik anak atau mengajarinya.

      Terakhir : marilah kita banyak-banyak bersyukur, agar Allah membuka mata kita bahwa sebenarnya kita adalah pendidik hebat yang telah melakukan banyak perubahan pada anak-anak kita.

      Seringkali jiwa tak bersyukurlah yang membuat kita merasa gagal dan tak layak mendidik anak sendiri.

      Delete
  5. Assalamualaikum

    1. Mau bertanya, bagaimana bisa optimal menumbuhkan fitrah keayahbundaan shg menjadi sebuah kekuatan dalam mendidik anak-anak?

    2. Fitrah kebundaan itu sesuatu yg alamiah tumbuh atau perlu ada usaha pembinaan utk menumbuhkannya?

    3. Ketika kita punya anak yg sudah remaja apa perlu juga menumbuhkan fitrah tersebut dlm program program HE?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fitrah ayahbunda tersebut alamiah tapi sekaligus harus digali dan ditumbuhkan. Fitrah itu bagaikan bibit dan benih, ia telah Allah titipkan ke dalam diri kita. Namun ia harus dijaga, dirawat, dibersihkan dari hama dan disemai.

      Maka, hal pertama yang harus dimiliki oleh ayahbunda agar fitrah keayahbundaan itu tergali dan tumbuh dengan baik adalah dengan meyakini, percaya diri dan terus bertanya pada diri sendiri tentang pendidikan anak terbaik, sebelum bertanya pada orang lain atau pakar parenting.

      Fitrah keayahbundaan itu akan terbenam ketika kita tanpa sadar menganggap ada yang lebih ahli daripada Allah dalam mendidik anak-anak kita. Sehingga kita lebih ingin berkonsultasi pada mereka daripada kepada Allah.

      Pada dasarnya pada diri kita telah tertanam fitrah tentang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang patut dan yang tak pantas. Jika itu kita ikuti, maka kita telah menjadi pendidik yang baik. Dan semua kebaikan itu akan kita lakukan dengan benar jika landasan utama pendidikan adalah KASIH dan SAYANG.

      Marilah kita belajar dari Ramadhan : Kenapa agar kita kembali kepada fitrah (iedul fithri) kita harus shaum ? Karena shaum membuat kita lebih jernih dalam merasakan sesuatu : jernih dalam menghayati rasa lapar, lebih berempati terhadap orang kehausan dsb.

      Nah begitu pula dengan upaya untuk mengembalikan fitrah keayahbundaan kita : rajin-rajinlah "berpuasa", rajin-rajinlah menghayati sesuatu ketika sesuatu itu jauh dari kita.

      Orang baru akan sadar pentingnya air saat dia haus. Orang baru sadar pentingnya oksigen saat dia sesak nafas. Orang baru sadar pentingnya kasur saat dia mengantuk.

      Nah begitulah fitrah bekerja : menyadari sesuatu saat ia tiada.

      Membangun fitrah ayahbunda juga begitu : mencoba menghayati "seandainya saya menjadi anak"

      Mungkin penjelasan ini terlalu filosofis. Semoga dapat dipahami.

      Delete


  6. Assalamualaikum.Wr Wb ustadz.

    1. Selama ini saya terbiasa melakukan 'ritual' memeluk anak lalu mendoakannya dan di aamiin-kan bersama-sama. Alhamdulillah saya tenang melakukan ini, dan anak juga lebih mudah diarahkan.

    Namun kadang ada 'polusi' yang datangnya dari keluarga juga (sepupu, seumuran), keliatan banget perbedaan tingkah anak saya. Efeknya, saya jadi sensi kalo anak saya main bareng, kadang saya kurung dan maen di rumah saja. Tapi di sisi lain saya juga ingin anak saya melakukan kegiatan (eksplorasi) di luar. Bagaimana sebaiknya saya bersikap ustadz? Jazakallah khair.

    2. Ustadz fitrah Ayah Bunda yg ketiga adalah fitrah sebagai ortu bagi anak2 nya yang memiliki hak, kewenangan dan kewajiban atas anak2 nya. Yang saya tanyakan, sejauh mana batasannya atas hak, kewenangan & kewajiban tersebut mengingat mendidik bukan menjejalkan
    " OUT SIDE IN".

    Jazakallah ustadz.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan terlalu takut dengan "polusi", karena anak-anak kita juga butuh "polusi" tersebut. Kita baru disebut berhasil dalam mendidik anak, jika dalam situasi pergaulan yang penuh "polusi" ternyata anak-anak kita tidak terkontaminasi.

      Yang harus kita lakukan bukanlah memisahkan anak-anak kita dari lingkungan yang penuh polusi tersebut. Tapi bagaimana agar anak kita mampu membersihkan dirinya dari polusi.

      Bisa saja dalam pergaulannya anak-anak kita terkena satu polusi, tapi sekaligus mampu menebar sepuluh kebaikan. Bukankah itu sangat bagus dan luarbiasa ?

      Justru anak-anak yang merugi adalah anak-anak yang sama sekali tak terkena "polusi" tapi iapun tak menebar kebaikan apapun bagi lingkungannya.

      Untuk itu, tugas kita adalah mendidik anak-anak kita dengan ego yang kuat, agar ia mempengaruhi, bukan terpengaruh.

      Betapa banyaknya orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan kebaikan yang banyak, namun egonya lemah. Akhirnya kebaikan itu pelan-pelan pupus karena pengaruh buruk dari lingkungannya.

      Jadi, mendidik kebaikan itu penting, tapi membentuk ego yang kuat juga amat penting.

      Tentang hak, kewajiban dan kewenangan orangtua, itu adalah hal yang tak terpisahkan dengan amanah yang dipikulnya. Tak mungkin Allah mengamanahkan pendidikan anak-anak kepada kita tanpa adanya hak dan kewenangan.

      Diantara hak dan kewenangan ayahbunda terhadap anak-anaknya adalah hak dan kewenangan untuk membimbingnya kepada jalan Allah, lengkap dengan tuntunan aqidah dan syari'ahnya. Ayahbunda punya hak dan kewenangan untuk "mengintervensi" anak-anaknya agar ia tetap di jalan Allah.

      hak dan kewenangan itu telah dinyatakan dalam syari'at dengan istilah "amar ma'ruf - nahi munkar" : menyuruh pada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar.

      Tentunya hak dan kewenangan amar ma'ruf - nahi munkar ini tidak bersifat mekanistik dan robotik, tapi harus dimulai dari pendidikan aqidah dan pembentukan niat.

      Jangan sampai atas alasan inside-out, lalu seakan-akan kita kehilangan hak dan kewenangan amar ma'ruf - nahi munkar terhadap anak-anak kita

      Delete
  7. Assalamu'alaikum Ust,

    1. Selain dari ketentraman hati, indikator dari Bashirah Islamiyah dalam mendidik anak apalagi ya ustad? Lalu bagaimana menyelaraskan Bashirah kita antara suami dan istri agar tumbuh dan tajam bersama? Terima kasih.

    2. Apa kesalahan terbesar yang sering dilakukan orang tua dalam mendidik anak / menumbuhkan fitrah dalam diri anak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain ketenteraman hati, indikator dari bashirah Islamiyah itu adalah kemampuan kita dalam menafsirkan ajaran-ajaran Islam ke dalam upaya-upaya pendidikan. Misalnya, saat kita membaca perintah Allah untuk berjihad, maka kita paham apa yang harus kita didikkan pada anak agar ia mencintai jihad, lengkap dengan motif, tujuan dan metodenya.

      Indikator lain dari bashirah Islamiyah adalah dimudahkannya kita untuk memahami dan menyelesaikan masalah anak-anak kita tanpa terlalu bergantung pada teori-teori dan ajaran-ajaran parenting dari ahlinya.

      Untuk menyelaraskan antara bashirah ayah dengan bunda adalah dengan sering-sering shalat berjama'ah, istri menta'ati suaminya, dan suami mendengarkan curhat istrinya. Selain itu sering berdoa kepada Dzat yang menguasai hati manusia agar Dia menyatukan hati kita.

      Kesalahan terbesar orangtua dalam menumbuhkan fitrah anak adalah mengembangkan pendidikan yang penuh dengan rekayasa serta sangat interventif. Inilah pendidikan yang tak mengakui bahwa pada dasarnya setiap anak adalah baik, bahwa dalam diri anak telah terinstall tentang nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.

      Pendidikan model ini biasanya sangat mengandalkan cara-cara pembiasaan (conditioning) semata, dengan mengabaikan pendidikan untuk menumbuhkan rasa cinta pada Allah, Rasul dan Islam. Pendidikan ini juga mengabaikan niat dan motivasi dalam beramal

      Delete
  8. Sedikit pesan untuk merawat fitrah ayahbunda :

    Apapun masalah yang dihadapi dalam mendidik anak, bertanyalah pada diri sendiri terlebih dahulu, sebelum bertanya pada ahlinya.

    Bertanya pada ahlinya baru diperlukan saat kita tekah "kepentok". Terkadang, belajar sok tahu itu berguna.

    ReplyDelete

Silahkan berkomentarlah dengan baik dan sopan agar bisa saling berbagi manfaat bagi banyak orang ^_^